Pada tahun 100 H, Muhammad bin Ali mulai melancarkan propagandanya. Dia mengirim sejumlah utusan ke berbagai wilayah, dan mengajak mereka agar mendukung imam dari keluarga Muhammad. Tapi dia tidak menyebutkan secara terang-terangan, siapa Imam yang dimaksud?
Aspek lain yang juga perlu dicatat di sini, yaitu sentimen
arab dan non-arab yang dihembuskan oleh Bani Umayyah sejak awal berdirinya.
Sentimen ini pada tahap selanjutnya tidak hanya berlangsung satu arah (yaitu
diskriminasi bangsa Arab pada non Arab), tapi juga mengalir balik menjadi
sentimen anti-Arab oleh masyarakat non Arab, seperti yang terjadi di Persia dan
Khurasan.[1]
Satu-satunya tokoh dari bangsa Arab yang diterima secara luas
di kawasan ini adalah Rasulullah dan keturunanannya dari Fatimah dan Ali bin
Abi Thalib. Ini sebabnya, tidak mudah bagi tokoh-tokoh Arab yang ada pada masa
itu menarik simpati masyarakat Persia dan Khurasan yang bukan Arab. Juga
bukanlah hal mudah untuk membangun legitimasi di tengah struktur sosial yang
seperti ini.
Dalam hal ini, Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas harus
memutar otaknya sedemikian rupa untuk melancarkan strategi. Sekitar akhir masa
pemerintahan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, momentum yang ditunggu
pun datang. Sebagaimana dikisahkan oleh Akbar Shah Najeebabadi dalam “The
History Of Islam”, Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiah berkunjung ke
Damaskus.[2] Abu Hisyam, oleh pendukungnya dianggap sebagai pemimpin keluarga
Rasulullah Saw pasca wafatnya Husein bin Ali.[3]
Sepulangnya dari kunjungannya ke Damaskus, Abu Hisyam bertemu
dengan Muhammad bin Ali dan singgah di tempatnya. Tapi tiba-tiba dia jatuh
sakit dan meninggal. Konon sebelum meninggal, dia membaiat Muhammad bin Ali
sebagai khalifah kaum Muslimin. Dengan demikian, secara otomatis, klaim
kepemimpinan keluarga Rasulullah Saw sekarang berpindang ke Muhammad bin Ali
bin Abdullah bin Abbas. Klaimnya sebagai imam dari keluarga Muhammad pun,
mendapat dukungan dari pengikut Abu Hisyam. Dengan modal dukungan inilah
Muhammad bin Ali segera memulai rencana politiknya. Dia mengirimkan 12 orang
utusan untuk mengajak para tokoh di sejumlah wilayah seperti Irak, Khurasan,
Hijaz, Yaman, dan Mesir, agar mendukung gerakannya. [4]
Tak lama setelah Sulaiman bin Abdul Malik wafat, Umar bin
Abdul Aziz menggantikannya. Umar menghapus semua kebijakan diskriminatif dan
tradisi ashobiyah yang selama ini dikembangkan oleh penduhulunya. Sehingga di
masa pemerintahnya, segregasi sosial antara Arab dan non-Arab sempat tereduksi
untuk sementara. Meski begitu, Muhammad bin Ali tetap melanjutkan rencananya,
dan memprovokasi masyarakat untuk mendukung gerakannya. Pada tahun 100 H, para
utusan Muhammad bin Ali berhasil mendapatkan dukungan yang cukup banyak dari sejumlah
wilayah.[5]
Akan tetapi, meski sudah mendapat dukungan luas atas
rencananya, Muhammad bin Ali belum menyatakan dirinya secara terang-terangan
sebagai imam dari keluarga Muhammad. Sebagaimana dikisahkan oleh Imam
Al-Suyuthi, saat Yazid bin Abi Muslim terbunuh di Afrika dan orang-orang Barber
mengingkari janjinya, Muhammad bin Ali mengutus seseorang ke Khurasan. Dia
memerintahkan utusan itu untuk mengimbau agar orang-orang rela menjadikan
keluarga Muhammad sebagai pemimpin (khalifah), tetapi waktu itu dia sama sekali
tidak menyebutkan siapa keluarga yang dimaksud.[6]
Boleh jadi, cara ini dilakukan untuk menjaga agar gerakan
yang diorganisirnya tetap aman. Tapi di sisi lain, sangat mungkin ini dilakukan
untuk menjaga kedoknya. Sebab bila dia langsung secara tegas menyampaikan
maksudnya, besar kemungkinan masyarakat akan ragu menerimanya. Karena
bagaimanapun, bagi sebagian besar masyarakat kala itu, klaim kepemimpinan hanya
sah apabila mereka berasal dari keturunan Ali dan Fatimah.
Pada tahun 107 H, Muhammad bin Ali menugaskan sosok bernama
Bukhair bin Mahan sebagai penanggungjawab propaganda Bani Abbas di kawasan
Persia dan Khurasan. Bukhair lalu mengirim sejumlah utusan untuk menemui
simpul-simpul masyarakat di wilayah tersebut. Mereka mengabarkan bahwa mereka
adalah perwakilan khusus dari keluarga Muhammad. Dengan alasan ini mereka
diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat. Dalam propagandanya, mereka
berjanji akan meneggakkan kembali hukum-hukum agama sesuai dengan tuntunan Al
Quran dan Sunnah. Seruan mereka diterima, dan beberapa simpul masyarakat pun
mulai menyatakan kesetiaannya pada Muhammad bin Ali.[7]
Tapi tak lama kemudian, gerakan rahasia mereka diketahui oleh
gubernur Khurasan. Para utusan Bukhair bin Mahan diburu dan dibunuh satu persatu.
Hanya satu yang selamat, dan berhasil mengabarkan perkembangan yang terjadi
pada Bukhair. Bukhair melaporkan masalah ini pada Muhammad bin Ali. Dia
memerintahkan Bukhair agar tetap mengirimkan utusan ke Khurasan dan melanjutkan
perjuangan.[8]
Menurut Al Maududi, bangsa-bangsa non-Arab (terutama bangsa
Persia) mendukung gerakan Bani Abbas ini dengan perhitungan, jika telah
terbentuk suatu pemerintahan dengan kekuasaan pedang-pedang mereka, mereka akan
dapat menguasainya dan sekaligus mengakhiri kekuasaan bangsa Arab serta
menghancurkan kekuatan mereka.[9] Dan siapa sangka, apa yang mereka renungkan
ini, di kemudian hari memang terwujud. Karena kelak, aparatur Dinasti Abbasiyah
mulai dari level tertinggi hingga yang paling bawah, nyaris steril dari bangsa
Arab. (AL)
Bersambung…
Catatan
kaki:
[2]
Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh,
Darussalam, 2000, Hal. 230
[3]
Kelak, para pengikut Muhammad bin Hanafiah ini dikenal sebagai sekte Syiah
Kaisaniyah. Ini adalah sekte Syiah yang mempercayai kepemimpinan Muhammad bin
Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali. Nama Kaisaniyah diambil dari nama
seorang bekas budak Ali bin Abi Talib, Kaisan, atau dari nama Mukhtar bin Abi
Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan. Sekte Kaisaniyah terpecah menjadi
dua kelompok. Pertama, yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah sebenarnya
tidak mati, tetapi hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir
zaman. Mereka menganggap, Muhammad bin Hanafiyah adalah Imam Mahdi yang
dijanjikan itu. Yang termasuk golongan Kaisaniyah di antaranya sekte
al-Karabiyah, pengikut Abi Karb ad-Darir. Kedua, kelompok yang mempercayai
bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah mati, tetapi jabatan imamah beralih kepada
Abi Hasyim bin Muhammad bin Hanafiyah. Yang termasuk kelompok ini adalah sekte
Hasyimiyah, pengikut Abi Hasyim. Sekte ini terpecah-pecah setelah meninggalnya
Abi Hasyim. Menurut Ibnu Khaldun, bahwa setelah meninggalnya Abi Hasyim,
jabatan imamah berpindah kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas,
kemudian secara berturut-turut kepada Ibrahim al-Imam, as-Saffah, dan
al-Mansur. Sekte Kaisaniyah ini telah lama musnah. Namun, kebesaran dan
kehebatan nama Muhammad bin Hanafiyah ini masih dapat dijumpai dalam
cerita-cerita rakyat, seperti yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Aceh dan
hikayat Melayu yang terkenal, Hikayat Muhammad Hanafiah. Hikayat ini telah
dikenal di Malaka sejak abad ke-15. Lihat, Ensiklopedi Syi’ah,
http://id.al-shia.org/page.php?id=1297&page=3, diakses 15 Februari 2019
[4]
Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit
[5]
Ibid
[6]
Lihat, Imam Al Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, Jakarta, Qisthi
Press, 2017, hal. 278
[7]
Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam or The Life and Teachings of
Mohammed, Calcutta, S.K. Lahiri & Co, 1902, hal. 231
[8]
Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, Hal. 230
[9]
Lihat, Abul A’la Al-Maududi, Op Cit, hal. 233 5

0 komentar:
Posting Komentar